Pernah dengar suara rebana yang kompak, ritmis, dan bikin kaki ikut bergoyang? Nah, di sekolah, suara itu bukan cuma jadi pengiring sholawat. Lewat ekstrakurikuler Banjari, siswa bisa belajar musik, kekompakan, sekaligus menumbuhkan kecintaan pada seni Islami.
Ekstra Banjari menjadi salah satu kegiatan yang membuat suasana sekolah semakin berwarna. Di balik suara “tak… dung… tak… dung…”, ada proses belajar yang seru. Siswa berlatih memainkan alat musik rebana, mengenal pola pukulan, menghafalkan lantunan sholawat, hingga belajar tampil percaya diri di depan banyak orang.
Menariknya, bermain banjari nggak bisa asal pukul. Setiap anggota punya peran masing-masing. Ada yang bertugas menjaga ritme, ada yang mengisi variasi pukulan, dan semuanya harus saling mendengarkan. Kalau satu saja kehilangan tempo, kekompakan bisa ikut buyar. Dari sinilah siswa belajar bahwa kerja sama itu bukan sekadar teori di kelas.
Latihan juga menjadi ruang bagi siswa untuk berani mencoba. Salah pukul? Ulangi. Belum kompak? Latihan lagi. Masih malu tampil? Pelan-pelan belajar percaya diri. Proses sederhana seperti ini justru menjadi pengalaman berharga yang bisa terbawa ke kehidupan sehari-hari.
Banjari juga menjadi wadah untuk mengenalkan seni dan budaya Islami kepada generasi muda dengan cara yang menyenangkan. Sholawat yang dilantunkan terasa semakin hidup ketika berpadu dengan tabuhan rebana yang enerjik.
Jadi, siapa bilang ekstrakurikuler hanya sekedar menabuh rebana?
Di Banjari, setiap tabuhan punya irama, setiap latihan punya cerita, dan setiap penampilan menjadi kesempatan untuk berkembang. Bukan cuma belajar memainkan rebana, tetapi juga belajar kompak, disiplin, percaya diri, dan mencintai sholawat.
Karena dari sebuah tabuhan sederhana, bisa lahir rasa percaya diri yang luar biasa!
Kalau kamu punya pengalaman seru saat latihan Banjari, cerita dong! Menurut kamu, bagian paling seru dari bermain Banjari itu apa? Yuk bisa tulis di kolom komentar!



0 Komentar