Anak Harus Disiplin, Tapi Haruskah Selalu Dimarahi?
Anak terlambat bangun, lupa merapikan mainan, tugas belum selesai, atau terlalu lama bermain gadget. Respons kita kadang otomatis: “Sudah berapa kali Mama bilang?” Tapi, benarkah anak hanya bisa belajar disiplin kalau dimarahi?
Menjadi orang tua memang tidak punya tombol pause. Setiap hari ada saja momen yang menguji kesabaran. Ketika anak melakukan kesalahan yang sama berulang kali, suara kita bisa ikut naik beberapa tingkat.
Padahal, mungkin ada satu hal yang perlu kita tanyakan kembali: apakah tujuan kita mendisiplinkan anak adalah supaya ia takut dimarahi, atau supaya ia belajar bertanggung jawab?
Pertanyaan ini menjadi salah satu hal menarik yang bisa direnungkan melalui buku No-Drama Discipline karya Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson.
Buku ini mengajak orang tua melihat disiplin dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Disiplin bukan sekadar memberikan hukuman ketika anak melakukan kesalahan. Disiplin seharusnya menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar memahami perilaku, mengelola emosi, dan mengambil keputusan yang lebih baik.
Tegas Boleh, Marah Terus-Menerus?
Bukan berarti setelah membaca buku ini orang tua harus menjadi “serba boleh”. Anak tetap membutuhkan aturan. Anak tetap perlu mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh. Bahkan, batasan yang jelas justru membantu anak merasa aman. Bedanya ada pada cara menyampaikannya.
Ketika anak menumpahkan sesuatu, misalnya, kita bisa memilih antara langsung berkata, “Kamu ini memang ceroboh!” atau mengajak anak membereskan bersama sambil mengatakan, “Tadi tumpah. Yuk, kita bersihkan. Lain kali lebih hati-hati, ya.”
Keduanya sama-sama memberikan batas. Tetapi pesan yang diterima anak berbeda. Teguran pertama mungkin membuat anak merasa dirinya buruk. Sedangkan teguran kedua membantu anak memahami bahwa perilakunya perlu diperbaiki, tetapi dirinya tetap dihargai.
Tenangkan Dulu, Ajarkan Kemudian
Ada kalanya anak sedang menangis, kesal, atau tantrum. Pada kondisi seperti ini, nasihat panjang sering kali justru masuk telinga kanan, keluar entah ke mana. Bukan karena anak sengaja tidak mau mendengar. Anak memang masih belajar mengelola emosinya. Karena itu, orang tua bisa mencoba menenangkan situasi terlebih dahulu. Setelah anak lebih siap, barulah membicarakan apa yang terjadi.
Sederhana? Belum tentu.
Apalagi kalau kita sendiri sedang lelah.
Namun, justru di situlah tantangannya. Anak belajar mengelola emosi salah satunya dari cara orang dewasa menghadapi emosi mereka.
Disiplin Itu Proses, Bukan Sekali Jadi
Anak tidak otomatis menjadi disiplin hanya karena pernah dimarahi. Mereka membutuhkan pengulangan, contoh, batasan yang konsisten, dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Itulah mengapa buku No-Drama Discipline menarik untuk menjadi salah satu bacaan orang tua. Bukan untuk mencari resep menjadi orang tua sempurna karena orang tua sempurna sepertinya memang hanya ada di iklan tetapi untuk mengajak kita berhenti sejenak dan melihat kembali cara kita mendampingi anak.
Sebab pada akhirnya, kita tidak sedang membesarkan anak yang takut melakukan kesalahan. Kita sedang membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengenali kesalahan, bertanggung jawab, dan belajar memperbaikinya.
Mungkin mulai hari ini, sebelum suara meninggi, kita bisa menarik napas sebentar dan bertanya:
“Apa yang sebenarnya ingin saya ajarkan kepada anak dari kejadian ini?”
Karena disiplin yang baik bukan tentang seberapa keras suara kita. Tetapi tentang seberapa dalam anak belajar.

0 Komentar