Ahlan wa sahlan di salah satu sekolah terbaik yang senantiasa menanamkan akhlakul karimah dan keunggulan akademis pada diri setiap siswa. Atas izin Allah, SD Al Falah Assalam yang berakreditasi A ini telah ditetapkan sebagai Sekolah Dasar Rujukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2019.

Selasa, 19 Mei 2009

TATKALA KITA HARUS MENJADI SEORANG NANI 911

Oleh : Ustdh. Hestin Sukesih, S.Ag

Ada beberapa metode yang sangat mudah untuk dilakukan dengan hasil yang signifikan dalam mengatasi masalah – masalah yang berkaitan dengan siswa. Metode ini seperti yang dilakukan oleh Nani dalam acara Nani 911 yang ditayangkan oleh salah satu station TV Swasta. Metode yang ditawarkan sangat sederhana, tidak bertele-tele, mudah ditiru dan diterapkan untuk kasus lain yang berbeda namun senada. Setiap kasus yang ditampilkan selalu memunculkan pembuktian bahwa kesalahan pola asuh atau system pendidikan dapat berakibat fatal terhadap peserta didik. Terkadang anak yang semula tidak bermasalah berubah menjadi bermasalah.

Tantangan dunia pendidikan sangat komplek, baik datang dari dalam diri siswa maupun dari luar. Sebagai seorang yang mengambil peran pengasuh atau pendidik harus jeli dan cerdas dalam menganalisa setiap permasalahan yang dihadapi siswa untuk menentukan pemecahan yang jitu laksana seorang Bethara Guru yakni seorang tokoh pewayangan yang bertangan banyak sebagai simbol mumpuni dalam melahirkan berbagai kebijaksanaaan.

Permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik tidak melulu masalah pembelajaran saja. Ada beberapa jenis permasalahan yang menjadi hambatan dalam belajar atau pencapaian hasil optimal diantaranya adalah penerapan pola asuh di rumah serta problema yang berkaitan dengan fisik atau kelainan yang kita kenal dengan anak berkebutuhan khusus ( inklusi ). Dua masalah ini ada yang saling berhubungan ada yang menjadi masalah mandiri atau tidak berkaitan.

Pada akhirnya di kelas kita mengenal anak-anak seperti ini sebagai anak yang nakal, susah diatur bahkan bodoh, padahal hal tersebut belum tentu benar. Mereka hanya membutuhkan pelayanan yang tepat dalam proses pembelajarannya sekaligus mendapatkan bantuan dari orang lain dalam menemukan permasalahan yang sedang dihadapi karena tidak ada seorang anakpun yang merasa nyaman mendapatkan nilai jelek atau atribut nakal dari lingkungannya.

Ada beberapa metode yang sangat mudah untuk dilakukan dengan hasil yang signifikan dalam mengatasi masalah – masalah yang berkaitan dengan siswa. Metode ini seperti yang dilakukan oleh Nani dalam acara Nani 911 yang ditayangkan oleh salah satu station TV Swasta. Saya sangat terinspirasi untuk menyampaikan karena metode yang ditawarkan sangat sederhana, tidak bertele-tele, mudah ditiru dan diterapkan untuk kasus lain yang berbeda namun senada. Setiap kasus yang ditampilkan selalu memunculkan pembuktian bahwa kesalahan pola asuh atau system pendidikan dapat berakibat fatal terhadap peserta didik. Terkadang anak yang semula tidak bermasalah berubah menjadi bermasalah.

Metode tersebut terejawantahkan dalam langkah – langkah sebagai berikut
1. Menentukan masalah
Langkah ini bertujuan untuk memilah – milah masalah yang dihadapi siswa supaya tampak jelas mana yang menjadi masalah pokok mana yang menjadi masalah imbas. Karena biasanya satu permasalahan yang dihadapi siswa dapat memicu munculnya masalah lain , bisa berkaitan dengan perilaku maupun pembelajaran. Misalnya seorang anak kelas satu yang belum bisa membaca sementara teman-teman yang lain sudah bisa membaca dan pembelajaran di sekolah sudah mengharuskan ia bisa membaca maka masalah lain yang timbul akibat ia tidak bisa membaca adalah ia akan cenderung meninggalkan bangku, mengganggu teman dan membikin ulah di kelas.
Setelah kita dapat menentukan masalah pokok dan masalah imbasnya kita bisa melangkah pada tahab kedua yakni mencari sebab masalah pokok muncul


2. Menentukan sebab masalah pokok
Seorang anak terkadang tidak menyadari kalau dia bermasalah atau dia tahu tetapi tidak mengerti mengapa ia menjadi bermasalah. Peran pengasuh, pendamping, pendidik dalam hal ini orang-orang yang berkaitan dengan proses tumbuh kembangnya sangat berpotensi menjadi pemicu masalah atau sebaliknya. Misalnya seorang anak yang selalu dilayani oleh seorang pembantu yang direkomendasikan oleh orang tuanya untuk memberikan pelayanan prima bagi anaknya dapat melahirkan seorang anak yang bermental bossy. Selalu minta dilayani, malas mengerjakan tugas mandiri dan bersikap mau menang sendiri. Tentu saja hal ini tidak kondusif untuk suasana belajar di kelas karena ia cenderung membangkang dan tidak melaksanakan aturan dengan baik.
Dengan mengetahui yang menyebabkan masalah pada diri siswa kita bisa menentukan cara-cara mengatasinya.

3. Menentukan cara mengatasi penyebab masalah
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi penyebab munculnya masalah siswa yaitu buat aturan yang simple, jelas, mudah dipahami namun tegas. Bisa berupa jadwal, tata tertib atau kesepakatan. Selanjutnya aturan bisa diikuti dengan pemberian reward atau panisme dan yang terakhir tentu saja berkomitmen. Komitmen ini harus dimiliki oleh semua pihak yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan siswa. Oleh karena itu perlu adanya hubungan kerjasama yang baik antara rumah dan sekolah.

Kamis, 14 Mei 2009

Unas : Evaluasi pendidikan yang tidak mendidik


Ritual tahunan untuk siswa SMA dan SMP (Unas) telah selasai. 4 hari menjadi waktu yang penting dan paling menentukan lulus atau tidak. padahal waktu mereka belajar selama 3 tahun dan dinyatakan lulus atau tidak hanya dalam waktu 4 hari. beragam ekspresi yang ditampakkan siswa, ada yang harap harap cemas , ada yang menangis karena tidak dapat mengerjakan dengan baik, dan ada yang tenang-tenang saja karena mereka ada yang membantu

Tahun ini memang berita tentang kecurangan yang dilakukan pihak sekolah yang terekspos media relatif sedikit, bila dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya, namun diakui atau tidak, sebenarnya bentuk bentuk kecurangan Unas saat ini terorganisir lebih rapi sehingga jarang terungkap media. Dan itu tidak hanya dilakukan oleh sekolah di daerah terutama daerah pinggiran yang sekolahnya serba terbatas dari fasilitis sekolah yang mendukung pembelajaran, tetapi juga dilakukan oleh sekolah sekolah yang memiliki fasilitas lebih lengkap dan memadai

Hal ini tidak terlepas dari dari upaya pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesa dengan meningkatkan standar kelulusan tiap tahun. Upaya tersebut memang patut diapresiasi, beragam respon masayarakat, ada yang keberatan, meskipun demikian menurut pemerintah, standar kelulusan yang ditetapkan sekarang yaitu sebesar 5,50 masih jauh dibawah standar kelulusan negara- negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, sehingga standar kelulusan itu dianggap realistis oleh pemerintah

Faktanya banyak sekolah yang merasa khawatir dengan standar kelulusan tersebut karena kemampuan seluruh siswanya berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan sekolah masih ada yang mendapatkan nilai di bawah standar kelulusan, sehingga bila harus dipaksakan untuk mengerjakan sendiri dikhawatirkan tidak lulus. Guru pasti tidak tega melihat siswanya tidak lulus

Atas dasar itulah sekolah- sekolah melakukan upaya yang menjurus pada suatu yang tidak bisa dibenarkan secara hukum atau secara moral. Untuk meluluskan semua siswanya sekolah membentuk tim sukses untuk amankan agar semua siswanya lulus. Tim itu memakai kode kode tertentu untuk membantu siswanya menyelesaikan jawaban soal-soal Unas (Jawa Pos edisi 30 april 2009 hal 13). Entah memang benar atau sekedar isu, dimungkingkan hal itu tidak hanya terjadi di satu daerah saja tetapi hampir di semua daerah. Dalam koran tersebut dijelaskan juga sebenarnya pelaku dari hati nuraninya tidak setuju dangan adanya cara-cara tersebut, tapi mereka mengatakan mereka tidak kuasa menolak sistem

Yah..........karena sistem inilah, apapun upaya yang bentuknya mengarah pada kecurangan dianggap bukan lagi menjadi sesuatu yang salah, tapi menjadi sebuah kebutuhan, karena sekolah butuh image, prestise dan sekolah tidak tega bila siswanya ada yang tidak lulus. Menurut mereka kecurangan itu bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kepentingan bersama, kepentingan siswa, kepentingan wali murid, dan kepentingan sekolah bahkan kepentingan Pemerintah Daerah .

Sebagai pengajar, penulis sangat prihatin sekali dengan kondisi saat ini. Pendidikan yang seharusnnya mulia, bermartabat, dan mendidik anak berakhlak mulia sebagaimana yang terdapat dalam UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 pasal 3 yang berbunyi “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab” hanya menjadi sebuah jargon yang berada di nun jauh di awan.

Tujuan pendidikan yang mulia tersebut telah ternodai oleh sebuah kondisi yang disebabkan oleh sistem yang dipaksakan, betapa tidak, sekolah sekolah yang keberatan dengan standar tersebut, mau tidak mau harus ikut, akhirnya mereka memilih cara yang tidak benar, pihak sekolah yang seharusnya menanamkan kejujuran, akhlak mulia, telah melibatkan siswa didiknya untuk bekerja sama melakukan kecurangan secara jelas,dan lebih menprihatinkan lagi yang menanamkan ketidakjujuran adalah pendidik, pihak yang selama ini dipercaya sebagai panutan siswanya.

Kita tidak bisa menbayangkan bagaimana kondisi negeri ini 10 -15 tahun ke depan, apakah akan muncul generasi yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan ?, tentunya kita tidak ingin hal itu terjadi. Cukuplah pengalaman krisis 98 menjadi pelajaran berharga bahwa membangun negeri ini tidak cukup dengan kepandaian otak saja, tapi harus diimbangi dengan pendidikan budi pekerti atau moral.

Agar keprihatihan tersebut tidak berlanjut harus segera dicarikan solusi, salah satu caranya adalah segera mengubah sistem. Pemerintah bisa memakai sistem yang disampaikan dari beberapa ahli pendidikan, yaitu dengan membuat sekolah dengan standar yang berbeda disesuaikan dengan kemampuan sekolah masing-masing misalnya sekolah standar A, sekolah standar B, sekolah standar C, dimana sekolah yang berbeda standar memiliki standar kelulusan yang berbeda pula,

standar itu akan dinaikkan sampai mencapai standar ideal yang ditetapkan pemerintah, misalnya pemerintah mematok sandar kelulusan ideal adalah 8,00, dan itu dilaksanakan secara bertahap, misalnya tahun ini sekolah standar A memiliki standar kelulusan 5,50 , sekolah standar B memiliki standar kelulusan 4,50, sekolah standar C memiliki standar kelulusan 3,50, maka tahun depan sekolah standar A harus 5,75, sekolah standar B harus 4,75, sekolah standar C harus 3,75 dan seterusnya sampai standar ideal itu telah tercapai oleh semua sekolah baik sekolah standar A, B, maupun C.

Karena adanya standar yang berbeda, maka waktu yang diperlukan oleh setiap sekolah untuk mencapai standar ideal akan berbeda, sekolah yang bersandar A akan lebih cepat mencapai standar ideal dari pada sekolah sekolah standar B dan C. Tentunya sekolah sekolah yang berstandar B dan C tidak dibiarkan begitu saja, tapi ini menjadi PR bagi pemerintah daerah terutama Dinas Pendidikan untuk menyelasaikannya. Apalagi saati ini sudah masuk era otonomi daerah yang memberikan kewenangan penuh pada pemerintah daerah untuk mengelola daerahnya.

Penentuan sekolah standar inipun harus dilaksanakan secara ketat dan benar benar apa adanya, bukan direkayasa sehingga mencerminkan kondisi riel sekolah yang mendapat standar tersebut, kriteria penentuan standar ini bisa memakai beberapa aspek misalnya sarana prasarana, row input siswa, kualitas guru, dsb.


Memang bila hal itu diterapkan, dari segi teknis akan sedikit merepotkan pemerintah karena harus merubah sistem, tetapi mau apa lagi, tentu kita juga tidak mungkin membiarkan sistem ini akan merusak generasi bangsa. Dengan mengubah sistem saat ini menjadi sistem sekolah standar, maka akan mengurangi kegelisahan guru yang selama ini berperang dengan hati nuraninya yang mengajarakan kejujuran dan kebaikan melawan sistem yang telah memaksa mereka melakukan ketidakjujuran.

Penulis yakin guru bangsa ini adalah guru yang terbaik, guru yang mulia. Jangan paksa mereka menjadi guru yang tidak baik dengan cara memaksakan sistem yang tidak realistis. Semoga pendidikan kita ke depan semakin baik amin......

Serunya Kegiatan Scounting Camp Kelas 4 Tahun 2025-2026

  SD Al Falah Assalam sukses menyelenggarakan kegiatan kepramukaan bertajuk "Scouting Camp Kelas 4 untuk tahun ajaran 2025-2026. Kegiat...